WHO Kirim Tim Ke Wuhan Selidiki Asal-Usul Korona

Bagikan:

Jenewa – Demi melakukan penelitian untuk menyelidiki asal-usul merebaknya virus Korona—untuk kemudian diberi kode Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berencana akan mengirimkan tim ke Wuhan.

Rencananya, tim kesehatan WHO yang terdiri dari 10 ilmuwan dan peneliti ini akan efektif bekerja sejak Januari 2021.

Fabian Leendertz dari Robert Koch Institute Jerman, yang juga seorang ahli biologi dalam tim yang melakukan perjalanan ke Wuhan pada Tahun Baru, mengatakan upaya untuk menentukan asal-usul virus bukan untuk menyalahkan, tetapi upaya untuk mencegah wabah di masa depan. “Ini bukan tentang menemukan negara yang bersalah,” katanya kepada Associated Press, Kamis (17/12/2020).

“Ini tentang mencoba memahami apa yang terjadi dan kemudian melihat apakah, berdasarkan data tersebut, kami dapat mencoba mengurangi risiko di masa depan,” tambahnya.

Dr Leendertz mengatakan misi penelitian tersebut diperkirakan akan berlangsung selama empat atau lima minggu. Dia menjelaskan bahwa para ilmuwan akan memeriksa contoh medis dan sinar-X dari sebelum wabah pertama kali diketahui untuk melihat apakah virus corona telah beredar lebih awal.

Para peneliti juga akan mengambil sampel dari kelelawar dan spesies lain saat mereka mencoba menentukan dari hewan mana virus itu mungkin pertama kali muncul.

Seperti kita tahu, setahun yang lalu, di Desember 2019, China memberi tahu dunia dan WHO tentang kasus “virus pneumonia” baru yang terjadi di kota Wuhan. Kekhawatiran bahwa virus itu telah menyebar dari hewan ke manusia, menyebabkan otoritas China menutup pasar hewan di Wuhan yang diduga sebagai asal muasal munculnya virus Korona yang disebabkan oleh binatang yang dikonsumsi oleh manusia di sana.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump –yang menampakkan diri sebagai ‘musuh’ China– telah mengklaim bahwa Institut Virologi Wuhan lah tempat asal mula kemunculan virus tersebut.

BACA JUGA :  Jack Ma Kembali, Saham Alibaba Melonjak Tajam

Trump juga secara rutin mengkritik tanggapan awal WHO terhadap wabah tersebut. Tetapi badan intelijen AS telah menyanggah teori konspirasi, dengan mengatakan bahwa mereka telah menyimpulkan bahwa virus corona “bukan buatan manusia atau rekayasa genetika”.

Sekedar mengingatkan, selama setahun ini virus yang menyerang saluran pernapasa tersebut telah membunuh lebih dari 1,6 juta orang di seluruh dunia, termasuk lebih dari 300.000 di AS, menurut penghitungan oleh Universitas Johns Hopkins.

Infeksi yang dikonfirmasi secara global telah mencapai 73 juta, dengan 16 juta di antaranya di AS, tetapi jumlah sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena pengujian terbatas, perbedaan dalam menghitung korban tewas dan penyembunyian angka korban oleh beberapa negara.

(Nad/IJS)

Bagikan:

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *